• Pusat Layanan: +62 21 849 946 70

28 Dec

Wisata ke Hutan Pinus Mangunan

Oleh : Suci Yulianty

Saat liburan tiba, Arini diajak ayahnya berlibur ke Yogyakarta. Ayah mengajak Arini wisata ke hutan Pinus Mangunan. Arini sangat senang sekali. Ini adalah pertama kalinya ia melihat hutan secara langsung. Selama ini ia hanya dapat melihat di internet dan diceritakan Bu Ani wali kelasnya.

Perjalanan menuju ke lokasi hutan Pinus juga sangat sejuk. Jalannya berliku, naik dan turun khas pegunungan. Tak hanya Arini dan keluarganya yang berkunjung ke sana. Banyak wisatatawan lain baik domestik maupun Asing yang mengunjungi hutan Pinus Mangunan.

Ketika sampai di sana, Arini sangat takjub. Suasananya sangat sejuk dan bersih. Pohon pinus tumbuh menjulang tinggi. Burung-burung berkicauan riang gembira.

“Ayah … Hutan pinus ini indah sekali!”

“Tentu Arini.”

“Coba lihat, Yah! Pohon-pohon pinus itu sangat rapi. Semua tumbuh sama tinggi.”

Arini berlari ke dalam hutan pinus. Ia berlari melewati jalur bagi pejalan kaki yang memang disediakan. Ayah mengajak Arini dan keluarganya duduk di salah satu tempat yang tersedia di sana. Ibu dengan cekatan meletakkan berbagai perbekalan makan.

“Ibu, aku dan Ayah akan keliling hutan ini. Apa Ibu mau ikut?”

“Sudahlah, Ibu tunggu kalian di sini saja ya.” jawab Ibu.

“Ya sudah, ayo kita berangkat, Yah!” Ajak Arini

Ayah dan Arini segera berjalan-jalan mengelilingi hutan pinus itu. Udaranya lumayan dingin, lebih dingin dari udara di perjalanan tadi.

“Ayah, apakah hutan pinus ini sudah ada sejak dulu?”

“Sudah. Hutan pinus ini memang sudah ada dari dulu. Tapi ketika itu hutan pinus belum seperti ini keadaannya.”

“Seperti apa keadaannya, Yah?” tanya Arini penasaran.

“Dulu, hutan pinus ini adalah wilayah yang tandus dan gersang. Banyak orang-orang yang tidak bertanggung jawab mengambil kayu pinus.”

“Kata Bu Ani, kalau hutan tidak ada pepohonan akan menyebabkan tanah longsor.” Arini mengingat-ingat kata-kata gurunya.

“Kamu benar, Arini. Belum lagi di dalam hutan ini ada sumber mata air. Namanya adalah sumber mata air Bengkung.”

“Apa itu, Yah?” Arini semakin penasaran.

“Sumber mata air Bengkung adalah sumber mata air alami yang ada di dalam hutan pinus ini. Lalu sekitar tahun 1925-1930 pemerintah Belanda membangunnya agar lebih bisa dinikmati sebagai sumber air di daerah sini.” Jelas Ayah

“Jadi jika hutan ini tidak ada pepohonannya lagi, maka sumber mata air Bengkung juga akan hilang. Begitu kan, Yah?”

Ayah mengangguk, “Benar Arini, karena pepohonan dapat menyerap dan menyimpan air. Jadi cadangan air akan semakin banyak. Ketika musim kemarau tiba, air tidak akan habis dengan cepat.”

“Kalau begitu, hutan pinus ini juga berfungsi untuk menyimpan cadangan air.”

“Tepat sekali! Makanya, setelah hutan pinus ini menjadi tandus, orang-orang mulai sadar bahwa yang mereka lakukan berakibat bagi kehidupan mereka juga.”

“Apa yang mereka lakukan sehingga hutan pinus ini kembali hijau?” tanya Arini

“Mereka tidak lagi menebang pohon pinus untuk diambil kayunya. Namun, mereka justru melindungi pohon pinus di hutan ini. Dan mereka melakukan reboisasi di tanah yang tandus yaitu dengan menanam kembali pepohonan.”

“Pohon yang ada di sini apa hanya pinus saja, Yah?”

“Tidak, ada jenis pepohonan lain yang ditanam di sekitar hutan pinus ini. Seperti mahoni, akasia, kemiri dan kayu putih.”

Arini mengangguk-angguk mendengar penjelasan Ayah. Sambil berbincang, Ayah menunjukkan nama-nama pohon lainnya yang mereka lihat di sekitar hutan pinus.

“Hmm … Rasanya segar berada di sini lama-lama!” Kata Arini sedikit berteriak.

“Itu karena oksigen yang dihasilkan dari pepohonan di hutan pinus ini sangat banyak.”

“Coba semua hutan dapat dijaga seperti ini. Pasti efek global warming bisa dikurangi. O … Iya. Kalau hutan kita terjaga, hewan-hewan yang ada di dalamnya juga terlindungi. Jadi hewan-hewan itu tidak mencari makan ke pemukiman penduduk.”

“Benar sekali Arini!” Nah, sekarang kamu bisa menyebutkan, apa saja cara untuk menjaga hutan?” tanya Ayah.

Dengan sigap Arini menjawab, “Pertama, kita tidak boleh menebang pohon secara sembarangan. Yang kedua, melakukan reboisasi.”

“Ada lagi?”

Arini menggeleng.

“Maksud tidak menebang pohon secara sembarangan adalah kita harus bisa melakukan tebang pilih. Artinya, pohon yang belum cukup umur tidak boleh ditebang. Kemudian, tidak membakar hutan secara sengaja untuk membuat ladang berpindah. Kegiatan membakar hutan itu juga menyebabkan polusi udara serta punahnya habitat hewan dan tumbuhan. Ladang yang dibuat berpindah-pindah sehingga dapat menyebabkan tanah menjadi tandus.” terang Ayah.

Arini mengangguk mengerti. Arini senang sekali karena selain bisa wisata ke hutan pinus Mangunan, ia juga belajar banyak tentang manfaat hutan juga cara menjaga hutan agar tetap lestari. Ketika masuk sekolah nanti, Arini akan menceritakan semuanya kepada teman-teman dan Bu Ani.

Hari semakin siang. Arini dan Ayah merasa sangat lapar. Mereka segera kembali menemui Ibu untuk makan siang bersama. Udara masih tetap sejuk tidak terasa panas meski hari sudah siang. Orang-orang masih asyik berfoto untuk mengabadikan kenangan di hutan pinus. Tak ketinggalan Arini dan keluarganya juga berfoto bersama di sana.

***
Tentang Penulis

Suci Yulianty, adalah seorang guru SDIT di Pondokgede. Pendidikan terakhirnya S2 MIPA. Hobinya sejak kecil adalah menulis. Alhamdulillah, sampai sekarang sudah mempunyai 24 buku antologi cerpen, puisi, dan cenak. Dan tahun 2019 ini telah menerbitkan 2 buku solo kumpulan cerpen anak “Misteri Sepatu Biru” dan picbook “Ayuna Sakit Gigi”. Namun, ia tetap semangat mencari ilmu menulis untuk terus meningkatkan dan memperbaiki kemampuannya. Ia juga merupakan anggota FLP Bekasi. Saat ini ia tinggal di Woodhill Residence Blok E4 Jati Luhur, Jati Asih, Bekasi.

Bisa dikontak di No. HP: 0857-7084-3845.

Email: uciek_s4fiza@yahoo.co.id

facebook: Suci Yulianty

IG: Suci Yulianty dan hazwa13.

 

Leave a Comment

error: Konten di Proteksi!!