• Pusat Layanan: +62 21 849 946 70

04 Oct

Sekeping Masa Lalu


Hari ini,  dua puluh enam tahun sudah perjalanan usia sekolah kita. Rentang waktu yang cukup panjang itu telah memberi perbedaan yang cukup berarti antara kondisi kita hari ini dengan hari-hari awal pendirian sekolah. Sebuah anugrah yang sepatutnya kita syukuri agar Allah terus melimphkan karuniaNya atas apa yang telah ada.

Hasrat untuk mencari alternatif pendidikan bagi anak-anak para aktivis dawah yang mulai memasuki usia sekolah telah menjadikan mereka berfikir ulang soal sekolah yang merka idamkan dan paling pas dengan gelora jiwa muda mereka. Gagasan ini semakin menguat, mengingat kondisi madrasah yang ada pada saat itu dirasakan tidak cukup memadai dari kemampuan manajerial dan konsep pembelajaran. Sementara, sekolah umum terlalu minus dengan muatan nilai keislaman yang dikhawatirkan akan menyimpan  benih-benih sekulerisme dalam diri anak.

Dari dialog dan analisa yang berkembang, muncullah sebuah gagasan untuk mewujudkan sekolah yang dapat memadukan segala kebaikan yang ada di MI dengan keunggulan yang ada di SD. Dibuatlah sebuah sintesa antara kedua hal tersebut untuk melahirkan sebuah gagasan baru yang memadukan kebaikan keduanya sebagai muatan bahan ajar dengan durasi waktu belajar dari pagi sampai petang, lebih panjang dari sekolah pada umumnya pada saat itu. Sekolah ini kemudian populer dengan sebutan Sekolah Islam Terpadu (SIT).

Tahun ’93 mulailah kita membuka sekolah di Pondok Gede ini.Sebagai sekolah baru, kita belum punya basis yang cukup kuat dari masyarakat sekitar. Jadilah sekolah yang kita bangun ini semacam tempat persinggahan karena para murid dan pengajarnya adalah penduduk yang berasal dari tempat lain. Kebanyakan kita adalah penduduk Jakarta. Dengan kata lain, kita bangun sekolah di Bekasi dengan basis utamanya ada di Jakarta.

Semangat yang menggebu untuk mencari sekolah alternatif sebagai upaya untuk mewujudkan idealisme dan impian akan sekolah yang ideal, telah menjelma menjadi satu  daya dorong yang melahirkan kekuatan untuk mengatasi segala problem yang muncul menyertai perwujudannya. Sehingga jarak yang cukup jauh tidaklah menjadi sebuah persoalan dan dengan cepat dapat di atasi.Berawal dari kebaikan seorang teman yang bersedia memberi pinjaman mobil Elf-nya, maka jadilah mobil ini menjadi mobil pertama yang menghubungkan Jakarta-Bekasi (PP).Tak lama berselang, salah seorang wali murid menghibahkan sebuah mobil Toyota Hiace tahun 75.Terakhir, melalui seorang teman, kita bisa mendapatkan mobil Mitsubisi L-300 dengan harga yang relatif murah saat itu.Mobil inilah sebagai mobil jemputan yang terakhir dengan masa pakainya yang paling panjang.

Sebagai sebuah upaya untuk mewujudkan idealisme, sekolah kita patut juga disebut sebagai sekolah perjuangan.Mungkin, hanya sekolah kita yang jarak antara sekolah dengan tempat tinggal murid yang begitu jauh, bahkan berada pada dua provinsi yang berbeda. Betapa tidak, Perjalanan yang cukup jauh dengan pola pembelajaran full day school, menjadikan cukup letih pada sebagian anak sehingga sering tetidur dengan sangat lelap dalam perjalanan pulang dengan gaya dan model yang beragam. Selain itu, kadang kita harus menghadapi kendala yang timbul disebabkan kondisi mobil yang relatif tua. Suhu mobil yang memanas yang menyebkan matinya mesin mobil,  menjadi kasus yang terlalu sering terjadi. Pernah suatu ketika air membuncah hebat dari radiator saat tutup air pada radiator tersebut akan dibuka. Demi menyelamtkan anak-anak dari semburan air panas radiator, Pak Syarif Hidayat yang kala itu menjadi sopir jemputan, serta merta menutup lubang radiator demi menghindari anak-anak dari semburan air panas tersebut. Maka, sebagian kulit lengan beliaupun  harus melepuh karena itu.

Pengorbanan sebagai sebuah keniscayaan dalam perjuanganpun dibuktikan oleh salah seorang wali murid yang dengan penuh kerelaan saat beliau harus memasukan salah satu anaknya yang sudah duduk di kelas tiga untuk kembali duduk di kelas dua, karena kelas yang kita buka saat itu barulah kelas satu dan kelas dua.

Sebagai sekolah baru, jumlah murid murid saat itu ada sebanyak 12 atau 13 belas anak.Tujuh anak di kelas satu dan enam anak di kelas dua.Sementara, team pengelola sekolah baru tiga orang saja.Satu orang sebagai kepala sekolah dan dua orang sebagai guru kelas satu dan satu orang lagi sebagai guru kelas dua.

Janganlah membayangkan sekolah kita saat itu dengan keadaan hari ini.Iqro’ kala itu hanya sebuah gedung dengan empat ruang di bawah majid Al Qolam.Pada empat ruang inilah kegiatan persekolahan dilaksankan. Tak ada bangunan lain yang mendampingi bangunan ini, kecuali rumah Alm. ustadz Rahmat Abdullah. Sepanjang mata memandang di sebelah utara,  kita hanya disuguhi bentangan tanah rawa bekas area persawahan yang sudah tidak lagi produktif. Dulu, sebagai pembatas,  dipasanglah kawat berduri di sepanjang sisi sebelah utara tanah iqro’  sebagai pagar pembatas. Rupanya,  saat turun hujan yang cukup lebat, pagar pembatas ini rubuh berserakan. Saat itulah Ustadz Rahmat berujar, “ itu sebagai tanda bahwa tanah Iqro’ bukan di situ batasnya” dan kalimat itu benar terbukti dengan berdirinya gedung TK dan Gedung An-Nur seperti sekarang ini.

Kemudian, saat arah pandangan kita alihkan ke arah selatan, maka akan kita dapati gugus pohon pisang yang menghampar dan tumbuhan kebun lainnya yang menambah suasana semakin sunyi. Lalu, jika pandangan mata kita arahkan pada arah barat, kita dapati tanah makan yang masih kosong pada saat itu, sehingga tidak jarang kita manfaatkan sebagai tempat untuk kegiatan mentoring dan pelajaran olahraga.

Saat itu, jalan menuju sekolah masih banyak yang berupa tanah yang sangat becek saat turun hujan.Bahkan ada yang berupa tanah yang sangat lengket.Untuk menyelamatkan sepatu yang dikenakan, tak jarang ada murid yang membungkus sepatu mereka dengan plastik kresek agar tetap bersih sampai di sekolah.Sebuah pemandangan yang sangat lucu bila hal itu dilakukan sekarang.

Jumlah penghuni komplek Iqro’ juga masih sangatlah terbatas.Apalagi pedagang yang menjajakan barang dagangannya. Mengingat hal itu, maka untuk memenuhi kebutuhan makan siang anak, guru dan staf, para  ibu-ibu wali murid dengan sangat antusias secara bergantian memasok  makanan dari Jakarta yang dititipkan pada mobil jemputan. Makanan yang paling favorit itu makanan yang dimasak oleh Ummu Fida dan Ummu Falahi.Untuk air minum, Pak Syarif secara rutin mengisi dan mengambil air hasil sulingan pada beberapa galon di rumah Ustadz Izzuddin.

Ini hanya sebuah kepingan sejarah.Terlalu banyak sesungguhnya romantika dan pengorbanan yang harus diberikan apresiasi demi wujudnya sekolah yang kita cintai ini. Semoga, celotah singkat ini dapat menggugah kesadaran  bahwa kita adalah bagian dari sebuah estapeta perjalan sejarah yang dibangun dengan semangat dan gelora perjuangan yang membahana. Semoga, kita dapat menjadi pewaris yang dapat memelihara dan melanjutnya gelora dan semangat juang mereka ….

Pondok Gede, 4 Oktober 2019

Asmali Bunyamin, S.Pd.I

Leave a Comment

error: Konten di Proteksi!!