• Pusat Layanan: +62 21 849 946 70

06 Jun

Di IQRO’, Suatu PETANG @salimafillah


Tertegun aku ketika melangkah ke arah Masjid bersahaja itu. Rumahmu masih seperti dulu, ditunjukkan dengan haru oleh para penerusmu. Aku baru saja bicara berbusa-busa di hadapan pewaris-pewarismu, dan tetiba kerongkonganku tercekat, nafasku sesak mengingat salah satu taujihmu:

“Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada izin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang Allah berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan Allah atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang?

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang shalih, ‘alim, ‘abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri?

Ash Shiddiq Abu Bakar selalu gemetar saat dipuji orang. ‘Ya Allah, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka’, ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang.

Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?”

Aku tak sanggup menjawab tanyamu. Aku tak mampu. Bahkan ketika aku dipaksa menjadi Imam Shalat Maghrib, padahal murid-murid yang bertahfizh di Iqro’-mu telah berjumlah sekian ribu, celakalah aku. Turun dari tangga Masjidmu, hatiku serasa habis terkuras, kosong melompong.

Duhai yang telah meninggalkan kami membawa segala kejernihan, hingga keruh hati kami kian terasa tanpa hadirmu.. Duhai yang telah pergi dengan menumpukkan sejuta kenangan baik di hati setiap binaanmu, yang jumpa maupun tidak.. Duhai yang cinta untukmu berakar, tumbuh, serta mekar di dada kami.. Teladanmu kian melangit, mentatih-tatihkan jiwa ini..

Engkau, Syaikhut Tarbiyah, Rahmat ‘Abdullah.. Rahimakallaahu rahmatan wasi’ah.
__________
In frame: Para pemangku amanah di Yayasan IQRO’ tinggalan Ust. Rahmat ‘Abdullah, al. Ust. ‘Izzuddin Abdul Majid, Ust. Sunu Sumartono.

Leave a Comment